Laman

Rabu, 11 Desember 2013

Strategi Pembelajaran Remidial




1.        Konsep Pokok Pembelajaran Remidial
a.         Kedudukan pembelajaran remidial dalam proses pembelajaran
Program pembelajaran secara garis besar adalah merupakan serangkaian tindakan yang direncanakan pendidikan secara sadar untuk mengubah perilaku awal subyek didik menjadi perilaku baru seperti yang tertuang pada kompetensi dasar yang seharusnya dikuasai.
Lima prinsip umum yang perlu dicermati pendidik sebagai panduan untuk melakukan interpretasi terhadap hasil asesmen adalah (Airasian, 1991) bahwa:
1.      Hasil asesmen hanyalah memberi gambaran tentang status perilaku subyek didik saat penilaian dilakukan
2.      Hasil asesmen hanya merupakan estimasi bukan indikasi yang eksak tentang kinerja subyek didik.
3.      Asesmen tunggal tidak memadai untuk dipergunakan sebagai dasar membuat keputusan yang penting tentang subyek didik.
4.      Asesmen tidak selalu memberikan informasi yang valid
5.      Hasil asesmen hanya menggambarkan kinerja subyek didik bukan menjelaskan alasan atau sebab-sebab mengapa kondisinya demikian
Untuk memantau kemajuan yang dicapai oleh subyek didik selama proses pembelajaran berlangsung diperlukan asesmen formatif yang penekanannya pada dua hal yaitu:
1)      Mengukur tingkat penguasaan materi atau konsep (produk) dan proses (contoh: proses sains, ketrampilan menggunakan alat tertentu) pada suatu unit pembelajaran tertentu semisal satu kompetensi dasar.
2)      Hasilnya dapat dipergunakan sebagai dasar untuk meningkatkan proses belajar.

b.    Tujuan Pembelajaran Remidial
Pada dasarnya tujuan pembelajaran remidial adalah sama dengan tujuan pembelajaran pada umunya yaitu untuk mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Namun demikian beberapa hal yang diharapkan dapat berkembang pada subyek didik melalui pembelajaran remidial adalah kemampuan mereka dalah hal:
1.      Memahami kelemahan dan kekuatan dirinya
2.      Memahami penyebab kegagalan belajar
3.      Memilih cara untuk mengatasi kegagalan belajar sesuai dengan modal dasar belajar yang dimilikinya
4.      Menentukan sumber belajar yang sesuai dengan modal dasar belajarnya
5.      Melakukan evaluasi diri

c.    Fungsi Pembelajaran Remidial
Pembelajara remidial memiliki beberapa fungsi yaitu meliputi : fungsi pembenahan, pengayaan, penuntasan, dan percepatan.

2.        Tahap-Tahap Pembelajaran Remidial
a.       Diagnosis
Sebelum subyek didik yang bersangkutan mengalami kegagalan belajar sebenarnya pendidik dapat mencermati dari gejala-gejala awal seperti:
1.      Subyek didik menunjukan hasil belajar di bawah rata-rata
2.      Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan
3.      Lambat dalam melakukan tugas-tugas dalam kegiatan pembelajaran
4.      Subyek didik menunjukan tingkah laku yang tidak wajar.
Untuk mengetahui kesulitan belajar, sebagai patokan dapat ditetapkan berdasarkan : tingkat pencapaian kompetensi dasar, kedudukan subyek didik dalam kelompoknya, perbandingan antara potensi dan prestasi subyek didik, dan tingkah laku subyek didik di sekolah.
b.      Usaha Prognosis
Kegiatan ini ditunjukan untuk mencari pemecahan terhadap kesulitan dan atau hambatan yang dialami oleh subyek didik yang ditemukan pada tindak diagnosis. Dalam hal ini pendidik berusaha utuk memperoleh alternatif (tidak hanya satu jenis) tindakan remidi yang sebaiknya ditempuh, strategi pelaksanaannya, dan cara mengetahui keberhasilan program tersebut. Dengan demikian dalam upaya ini dapat diidentifikasi:
1)        Siapa yang terlibat dalam menangani masalah
2)        Dimana dilaksanakannya
3)        Kapan melaksanakannya
4)        Bagaimana melaksanakannya
5)        Fasilitas apa yang diperlukan
c.       Tindakan perbaikan/Terapi
Apabila dalam usaha prognosis sudah dapat ditentukan jenis tindak remidi yang tepat untuk subyek didik tertentu, maka pelaksanaannya diserahkan kepada pihak yang berwenang. Pendidik akan menangani pembelajaran remedi apabila itu yang diputuskan sebagai satu pilihan penyelesaiannya. Seandainya untuk penyelesaiannya pihak sekolah tidak memiliki kompetensi, semisal memerlukan bantuan psikiater, psikolog, dsb. Maka sebaiknya pihak sekolah melibatkan orang tua untuk mengatasinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar